Di balik pesatnya pertumbuhan ekonomi dan investasi, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menghadapi persoalan lingkungan yang kian serius. Volume sampah yang terus menggunung menjadi tantangan yang makin sulit dibendung.

Data terkini mencatat, volume timbunan sampah di Batam telah mencapai angka fantastis, 1.300 ton per hari. Angka tersebut beriringan dengan jumlah penduduk yang telah mencapai sekitar 1,3 juta jiwa. Lonjakan penduduk yang mencapai 17 ribu jiwa dalam enam bulan terakhir semakin membebani kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur yang terancam overload .

Namun, di tengah darurat sampah ini, muncul secercah harapan dari CEO Batam Renovasi Rumah sekaligus Pengurus KADIN Kepri bernama Arif Agus Setiawan. Kegelisahannya terhadap tumpukan sampah yang tak kunjung usai mendorongnya untuk menggagas gerakan nyata, Ubah Sampah Menjadi Rupiah.

“Sampah ini masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Batam. Dampaknya tidak hanya pada pencemaran air dan tanah, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim,” ujarnya, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurut Arif, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memperluas kapasitas tempat pembuangan, apalagi dengan luas lahan yang terbatas. Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi akan terus menghasilkan sampah sehingga pendekatan yang dibutuhkan harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga dan lingkungan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong pembentukan gerakan pengelolaan sampah berbasis lingkungan, mulai dari tingkat RW atau kelurahan. Masyarakat akan diajak memilah sampah sejak dari rumah sehingga sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dipisahkan dan disalurkan ke bank sampah atau unit pengolahan, sedangkan sampah lainnya bisa dimusnahkan..

“Untuk tahap awal, kami akan menjadikan beberapa wilayah sebagai percontohan dalam program Ubah Sampah Menjadi Rupah,” ujarnya.

Arif berharap pendekatan ini tidak hanya membuat pengelolaan sampah lebih tertata, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat. Sampah yang selama ini dianggap sebagai barang buangan dapat diperlakukan sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi.

Arif juga mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan dan daur ulang yang dapat diterapkan di tingkat masyarakat. Konsep tersebut diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA sekaligus menghasilkan produk atau material yang kembali memiliki nilai guna.

“Gerakan ini bertujuan untuk mengurangi produksi sampah rumah tangga, sekaligus memberikan nilai tambah bagi ekonomi warga,” ujarnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan program prioritas Pemerintah Kota Batam di bawah kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, yang menempatkan pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan sebagai salah satu agenda penting.

Bagi Arif, penanganan persoalan sampah membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan, masyarakat menjadi aktor utama dalam pemilahan dari sumber, dunia usaha dapat berperan melalui investasi dan teknologi, sedangkan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan riset serta inovasi.

Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai agenda kebersihan lingkungan, tetapi berkembang menjadi ekosistem ekonomi berkelanjutan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

“Solusi sampah di Batam tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Harus ada kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan akademisi agar persoalan ini bisa ditangani secara berkelanjutan,” kata Arif.

Ke depannya, Arif berharap setiap rupiah yang didapat dari sampah dapat meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus menyelamatkan lingkungan Batam dari “gunungan sampah” yang mengancam. Kegelisahan Arif akan berubah menjadi gerakan. Bagaimana dengan kalian, apakah hanya akan menjadi penonton? ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *