SAGULUNG — Persoalan sampah di Kota Batam membutuhkan kolaborasi lintas elemen masyarakat. Tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, pengelolaan sampah juga membutuhkan keterlibatan dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas, hingga masyarakat di tingkat rumah tangga.
Semangat kolaborasi tersebut mendapat perhatian positif dari Wali Kota Batam Amsakar Achmad yang mengapresiasi gagasan “Mengubah Sampah Menjadi Rupiah” yang digagas pengusaha muda sekaligus Pengurus Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Batam, Arif Agus Setiawan.
Amsakar bahkan mendorong KAHMI Batam untuk mengambil bagian dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sekaligus mengembangkan sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
“Rencana program Mengubah Sampah Menjadi Rupiah ini sudah kami sampaikan kepada Wali Kota. Alhamdulillah, mendapatkan respons positif. Beliau meminta agar program ini dirumuskan lebih konkret sehingga bisa memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” ujar Arif Agus di sela-sela kegiatan KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) di SP Plaza, Minggu (13/9/2026).
Menurut Arif, gagasan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap persoalan sampah yang semakin kompleks seiring pertumbuhan Kota Batam. Data yang disampaikannya menunjukkan volume timbunan sampah di Batam telah mencapai sekitar 1.300 ton per hari.
Persoalan tersebut semakin menantang karena jumlah penduduk Batam terus bertambah. Dengan jumlah penduduk yang telah mencapai sekitar 1,3 juta jiwa dan pertambahan sekitar 17 ribu jiwa dalam enam bulan terakhir, produksi sampah diperkirakan akan terus meningkat.
Kondisi itu pada akhirnya memberikan tekanan semakin besar terhadap kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur. Jika pola pengelolaan sampah masih bertumpu pada pendekatan kumpul, angkut, dan buang, maka persoalan sampah akan semakin sulit ditangani.
“Setiap hari orang memproduksi sampah. Karena itu, persoalan sampah bukan masalah sederhana dan membutuhkan solusi yang tidak mudah. Kami tergerak untuk ikut berpartisipasi membantu pemerintah daerah mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat, salah satunya persoalan sampah,” kata Arif.
Arif menjelaskan, program Mengubah Sampah Menjadi Rupiah tidak semata-mata diarahkan untuk mengurangi volume sampah. Lebih dari itu, program tersebut dirancang agar masyarakat melihat sampah dari perspektif yang berbeda.
Sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tidak berguna dapat dipilah, dikelola, dan diolah sehingga memiliki nilai ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Konsep tersebut juga sejalan dengan kebutuhan Batam sebagai kota industri dan perdagangan yang terus berkembang. Pertumbuhan ekonomi dan penduduk harus diikuti dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga maupun sampah yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi.
Dorongan Amsakar agar KAHMI Batam ikut terlibat dalam program tersebut dinilai Arif sebagai peluang untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Menurut dia, KAHMI memiliki modal sosial berupa jaringan alumni HMI yang tersebar di berbagai bidang profesi. Dengan jejaring tersebut, KAHMI dapat mengambil peran sebagai bagian dari gerakan edukasi publik, terutama dalam membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami tentu menyambut baik dorongan tersebut. KAHMI memiliki jaringan dan sumber daya manusia yang bisa ikut memberikan edukasi kepada masyarakat. Kalau ini dilakukan secara bersama-sama, tentu dampaknya akan lebih besar,” ujarnya.
Arif menilai, keterlibatan organisasi kemasyarakatan seperti KAHMI juga penting agar persoalan sampah tidak hanya didekati dari sisi teknis pemerintahan, tetapi juga melalui pendekatan sosial dan perubahan perilaku. Sebab, teknologi dan infrastruktur pengelolaan sampah tidak akan cukup apabila masyarakat belum memiliki kesadaran untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah dari sumbernya.
Sebagai organisasi kemasyarakatan yang lahir dari rahim Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), KAHMI juga memiliki landasan nilai keislaman yang kuat dalam mendorong kepedulian terhadap lingkungan. Dalam perspektif Islam, menjaga kebersihan merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa kebersihan itu sebagian dari iman.
“Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan dan tidak membuat kerusakan di muka bumi,” katanya. ***
